Sisi lain Rukun Haji di Arafah.
Arafah adalah salah satu prosesi yang harus dilewati setiap jamaah haji yang mulai terasa “berat.” Begitu kata pembimbing ibadah haji sejak jauh sebelum keberangkatan. Risikonya lelah lahir-batin, sebelum kita menuju Muzdalifah dan Mina yang lebih berat. Jamaah yang pada waktunya menderita sakit pun “diwajibkan” wukuf. Untuk mereka disediakan ambulan dan tenda khusus.
Entah seluas apa padang itu. Kebayangnya dataran luas padang pasir tanpa peneduh dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia, dengan pakaian yang sama pula. Ternyata banyak pohon juga di sana. Kabarnya, pepohonan itu adalah bantuan dari pemerintahan Indonesia. Luar biasa. Saat duduk sejenak di bawah pohon, terpikirkan juga bagaimana menyirami pepohonan itu sampai sesubur ini? Dari cerita seorang mukimin di Mekah, untuk bisa menanam satu pohon pelindung di hamparan batu melulu itu diperlukan biaya sebesar 1.500 Riyal. Sungguh keterlaluan kalau ada orang Indonesia di tanah “tongkat kayu jadi tanaman” ini enggan bahkan malas menanam dan memelihara pohon. Padahal tinggal “ceb”!
Dan hamparan padang ini bukan berupa tanah berbatu.... Tapi seperti “batu bertanah.” Lebih banyak batunya. Tetiba salah seorang sejawat jamaah nyeletuk, “ Mungkin menyiramnya dengan hujan ya,” ujarnya polos. “Tapi hujan seperti apa?” lanjut dia. Dan di malam harinya waktu itu (2009) diperlihatkan hujan yang luar biasa! Begitu lebat, begitu deras. Bahkan tersiar kabar, di Jeddah pun turun hujan sampai terjadi banjir dan menimbulkan korban jiwa. Ya, Allah... Dan kami melewati malam itu dengan menahan udara dingin di atas tanah basah. Kita tidak boleh memakai jaket bahkan mengerudung diri dengan ihram pun tidak diperkenankan. Mengubah lilitan ihram selagi di Arafah, bisa membatalkan haji kita!
Saya sendiri membekali diri dengan empat buah “es tinju” itu, sebagai persiapan apabila menghadapi hawa panas dan dehidrasi. Nyatanya, tak satu pun benda itu digunakan. Teman-teman sekelompok tak henti-hentinya saling mendoakan, saling menenangkan, menyejukkan hati. Sampai disadari kini bahwa yang terberat di sana itu adalah antre di toilet.
Sampai menulis cerita ini di Antapani, tak habis rasa syukur bisa melewati saat-saat itu. Alhamdulillah....
Semoga saudara seumat di Indonesia dimudahkan untuk bisa melakoni ibadah ini ..... Aamiin.




Komentar
Posting Komentar