Corona Lagi, Lagi-lagi Corona
Tak perlu lagi ceritakan apa itu virus baru
yang merebak sealam dunia akhir-akhir ini. Kita sudah banyak dibanjiri
informasi yang resmi maupun hoax. Juga kabar baik maupun kabar kabur perkara
ini. Kita memang sedang dibikin ketar-ketir oleh apa pun buatan manusia,
khususnya buatan Cina.
Panik, iya. Tapi waspada itu juga perlu.
Selebihnya nalar akal sehat yang juga harus dijaga dalam menerima berbagai
informasi, seputar virus Covid 19 yang kurang ajar ini. Iya, kurang ajar!
Selain ancaman tertular, kita juga dibikin riweuh oleh berbagai cerita simpang-siur.
Dan, ternyata, kekuatan yang berasal dari
keyakinan ageman agama dan budaya sendiri lah yang menguatkan nyali dalam
mengahadapinya. Ada dugaan, pemimpin kita memang suka mengalah terhadap
kepentingan posisi untuk menguasai hal-hal yang menyangkut kebutuhan pribadi
bahkan politik parpol sendiri. Tapi itu bukan wilayah saya dalam menghadapi
kekuranajaran Corona ini.
Saya tinggal menuruti apa kata ahli kesehatan
yang obyektif dan membangun kekuatan diri dengan ageman agama serta tradisi,
budaya yang saya takini. Dan kita bisa dengan suka ria menghadapinya.
Saya kutip apa kata salah seorang sahabat
saya, Dik Tanbih. Dan saya suka.
Dengan
tolak pinggang aku sampaikan, "Aku nggak takut sama Corona!"
Biarlah
ketakutan keresahan itu melanda para orang pandai, orang-orang yang tajam
pikiran katanya.
Di desa
aku bergelut bagaimana hidup, bisa makan nasi dengan oseng-seng ditambah tempe
goreng, serta udutku selalu menyala dengan tetap didampingi secangkir kopi.
Peluh bercucur, hingga kata sakit dan kematian terlewatkan, terlupakan.
Akal
pikirku tak sampai turut resah tentang Corona, sebab spiritku melarang
memikirkannya, aku hanya takut jika semesta ini tak mau lagi menyapa dan
memelukku. Bukan Si Corona hasil rekayasa manusia.
Bulll
bulll....klepusss
Sruput
kopinya
Tetap
terkendali tanpa resah menggapai asa.
Rahayu.
Begitulah. Lawan dengan suka cita dan doa. #Covid19 #Corona


Komentar
Posting Komentar