Kucing Dolbon

 

 



Bandung - Kucing. Iya, kucing! Perkara binatang yang satu ini saya hanya menggolongkan 2 (dua) jenis saja. Pertama kucing peliharaan dan satu lagi kucing liar. Tentang penggolongan jenis kucing pun saya kurang paham, yang saya hafal paling kucing kampong, angora, Persia dan siam. Selebihnya saya memang tidak mendalami.  Tapi kalau urusan peduli, ya adalah.

Kucing-kucing yang pernah dipelihara di rumah saya juga awalnya bukan adopsi dari pembiak, tapi memungut dari jalanan karena kasihan. Kucing pertama yang dipelihara memang “kucing kampung.” Ada sepasang yang kemudian beranak-pinak. Cara memeliharanya pun secara tradisionil saja, termasuk cara memandikannya.

Makanannya seputar pindang yang dicampur nasi. Cukup itu. Hanya, ini dia, kotorannya jadi tidak teratur dan bau. Lama sekali membiasakannya untu bisa berak atau kencing di tempat yang sudah disediakan. Tapi, rasa kasihan terhadap mereka lebih besar dari pada kekesalan dengan seringnya membersihkan beberapa sudut ruang di rumah yang dikotori mereka.



Ada lagi kucing jantan yang dinamai “Pepeng.” Dinamai begitu karena mukanya seperti ditopeng kaya Batman. Karena kucing jantan tanpa kandang, dia sering berkeliaran di komplek. Boleh jadi, dia juga punya anak dari kucing tetangga.

Memang, tidak jarang ada kucing serombongan mampir ke halaman rumah saya hanya sekadar “duduk-duduk” di tempat teduh atau bermain-main di pepohonan. Naik-turun, lari sana lari sini. Bisa jadi juga induknya sedang mengenalkan kepada anak-anaknya, “Inilah rumah tempat tinggal kakekmu dulu.” Si Pepeng memang sudah tidak berada di rumah lagi, entah ke mana. Pada suatu hari dia hilang, pergi entah kemana.

Kisah singkat di atas itu melintas begitu saya melihat seekor kucing yang kelihatan tua dan tidak terpelihara. Kasihan sekali. Lebih kasihan lagi, saya dalam kondisi sedang tidak bisa langsung menolongnya. Dari wujudnya saja bisa diketahui, sepertinya kucing ini pernah dipelihara di rumahan. Namun, bisa jadi karena sudah tidak lucu lagi kucing itu dibuang begitu saja. Nah, kalau benar dugaan saya, ini termasuk kekejaman!

Ini yang ingin jadi pengingat, apabila hendak memelihara kucing, siapkan “jiwa raga” untuk menerima dengan keikhlasan bahwa kucing itu akan tua. Ketika binatang semakin tua, mereka akan semakin setia. Tapia ada kalanya pemilik jadi bosan dan jengkel. Akhirnya kucing peliharaan yang setia itu dibuang begitu saja……

Saya memang sudah tidak lagi memelihara kucing, tapi ada saja kucing komplek yang suka mampir ke halaman. Sekadar “merumput” karena kucing juga suka merumput. Atau “buang hajat.” Saya menyebutnya “kucing dolbon,” kucing modol di kebon (bahasa Sunda). Apa boleh buat, sesekali saya usir saja dengan semprotan air dari slang.

Kalaupun yang sementara ini ada yaitu seekor kucing betina milik yang indekos di rumah saya. Kucingnya sudah disteril jadi bisa bebas berkeliling komplek tanpa kuatir beranak pinak. Tapi malah lebih betah berlincah-lincah di halaman rumah.



Dari semua kisah sederhana perkara kucing ini, semoga siapa saja yang memelihara kucing menyiapkan diri juga untuk menghadapi kenyartaan bahwa peliharaan lucu ini akan menjadi tua dan tidak lincah serta tidak lucu lagi. Tapi, kesetiaannya tak akan punah. Jangan sia-siakan kesetiaannya, karena bagaimana pun kucing yang kita pelihara sudah membantu kita mengurangi rasa stress dan menambah pahala kasih sayang kita terhadap binatang yang disebut-sebut sebagai binatang kekasih Rasulullah.

Foto-foto berikut ini para kucing yang sempat difoto di rumah saya. adi raksanagara.-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.