Muzdalifah – Mina Perjalanan Ajaib Dalam Keputus-asaan

 




Usai shalat jama’ qashar Dzuhur dan Asar sampai Magrib di hari Wukuf Arafah selesai sudah prosesi utama ibadah haji. Namun masih harus dilanjut menuju Mina dengan terlebih dahulu mabit di Muzdalifah setelah matahari terbenam. Degdegan juga. Tapi merasa ditenangkan karena teman sekelompok jamaah sudah semakin kenal akrab.  Teman sekelompok memang sudah diwanti-wanti agar tetap bersama, jangan sampai terpisah dari rombongan, mengingat kita akan tiba di Muzdalifah pada malam hari.

Sejak tiba di  Madinah, secara pribadi saya mengajukan diri untuk mendampingi salah seorang jamaah yang terpaksa harus menggunakan kursi roda. Semula saya tidak mengenalinya, tapi merasa terpanggil karena ibu saya juga memang harus menggunakan kursi roda dalam mobilitasnya sehari-hari. Setidaknya, ada pengalaman bagaimana mendorong kursi roda di berbagai kondisi jalan bahkan menaiki atau menuruni undakan.

Dan, apa yang terjadi di Muzdalifah sungguh di luar dugaan! Namanya juga kawasan itu untuk mabit (istirahat sejenak) sambil memunguti batu kerikil yang akan digunakan di Mina (Jamarat) untuk melempar jumrah. Ini dia! Semua jamaah fokus ke mencari dan memunguti kerikil secukup melempar Jumrah Ula, Jumrah  Wustha dan Jumrah Aqaba. Setiap jamaah sedikitnya mengumpulkan 70 kerikil. Nah, pada saat itulah saya dan juga teman-teman lengah, karena mata lebih sering digunakan untuk mencari dan menemukan kerikil di malam hari sampai alpa menoleh sejenak ke arah teman serombongan. Selain itu, saya mengalami kesulitan untuk melajukan kursi roda di padang Muzdalifah yang datarannya tidak merata dan berkerikil. 



Rupanya Ibu Ema, istri Pak Abbas yang duduk di kurisi roda itu memahami kesulitan saya. Dia sesekali membantu mendorong dan saya menarik kursi dari depan. Sepertinya mudah, ya. Tapi kala itu kami berihram yang tidak biasa, di malam hari pula. Di saat itulah mulai terasakan ada peluh bercucuran. Dan nafas mulai terengah-engah ketika menyadari bahwa kami bertiga sudah terpisah dari rombongan. Dan ini lagi, perut mulai merasakan lapar, bunyi kriuk-kriuknya terdengar jelas. Ya, Allah....

Saya meminta Ibu Ema untuk tidak jauh dari kursi roda. Kalau perlu, pegang terus kursi roda sambil melaju sebisa-bisa ke arah gerbang kecil yang digunakan untuk keluar kawasan dan menanti bus jamaah menuju Mina. 

Kelelahan saya rupanya terlihat juga oleh Ibu Ema. Dia mengajak untuk rehat sejenak. Selagi rehat itu Ibu Ema memberikan air minum  yang dibekalnya. Bekal minum saya entah dimana. Tidak hanya itu, tak jauh dari tempat rehat ada jamaah yang belakangan diketahui berasal dari Nigeria menjual makanan di sana. Satu di antaranya adalah Pop Mie seperti yang biasa saya beli dengan mudah di warung tetangga di Antapani. Nampaknya Pop Mie itu diseduh dengan air termos yang sudah mendingin. Tapi mau menu apa lagi?  Itulah Pop Mie ternikmat yang pernah saya rasakan!

Malam semakin larut, antrean ribuan jamaah yang menunggu bus tak henti-hentinya. Kami beranjak ke dekat gerbang di sela ribuan jamaah lainnya yang tidak seorangpun saya kenal. Bus jamaah berhenti sebentar saja karena langsung dipenuhi jamaah yang juga terburu-buru. Sedangkan kami selain harus membantu dulu Pak Abbas naik ke dalam bus, saya harus tutun lagi melipat dan memasukkan kursi roda. Teknisnya mudah saja, namun di tengah ribuan jamaah yang terkesan “rebutan” tranportasi, hal ini jadi membuat putus harapan....

Sampai akhirnya ada bus yang entah untuk jamaah dari negara mana,  saya naik lebih dulu sebelum bus itu berhenti  dan berkata kepada sopir dan awak busnya.  “Indonesia, three jamaah’s. Wheel char. Weel chair.. Toriq, toriq!” Sambil  memperagakan mendorong kursi roda. Saya nggak tahu apa artinya “toriq”, tapi kata itu suka terdengar dari pendorong kursi roda di lantai 3 Masjidil Haram, di jalur tawaf untuk yang berkursi roda.

Sopir dan awak bus tersebut tersenyum. “Masha Allah, masha Allah... Haji!” sambil menepuk-nepuk pundak saya. Akhirnya, ya Allah, semoga para awak bus itu diberkati Allah. Dan bus berhenti di dekat Pak Abbas dan Ibu Ema menunggu. Awak bus mempersilakan kami naik lebih dulu. Dan mendapat kursi paling depan. Saya turun lagi untuk melipat kursi roda dan membawanya masuk bus. Sebentar saja bus sudah penuh dan melaju menuju Mina. Mina!

Dan serasa sebentar pula bus sudah memasuki wilayah mabit di Mina. Jalanan di malam  itu terasa sepi di tengah ribuan tenda serupa di Arafah bserjejer di pinggir jalan. “Kita turun dimana?” tetiba Ibu Ema bertanya. Saya menggeleng, tentu. Tiba-tiba bus berhenti dan sopirnya mengatakan.” Indunisi, Indunisi!” katanya. Dia mengisyaratkan kepada kami agar turun di pinggir jalan situ...

Dalam ketidaktahuan maksudnya, kami turun di tempat itu. Setelah kami bertiga turun beserta kursi roda, kebingungan itu muncul kembali. Kita harus kemana? Tenda yang mana?

Bus jamaah berlalu sudah. Tapi kami masih belum tahu harus kemana dan bagaimana. Terpikir juga untuk meminta bantuan Petugas  Jamaah Haji asal Indonesia. Setidaknya menunggu hari berubah pagi atau siang untuk bisa menemukan posnya.....

Dalam kebimbangan itu tiba-tiba terdengar suara yang sangat saya kenal memanggil nama saya. “Pa Adi! Ka dieu!” serunya dengan logat kesundaannya.

Subhanallah! Itu Pak Adang Dahlan, teman sekloter dan juga tetangga yang tempat tinggalnya hanya diselang satu rumah dari rumah saya di Antapani.... Dia langsung membimbing kami melewati gang di antara tenda-tenda. Tak sampai sepuluh menit, Pak Adang menunjukkan tenda kloter kami. Alhamdulillah. Pertolongan yang aneh dan luar biasa, hadir di saat kami berada di titik nadir keputus-asaan. Allahu akbar!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.