Ibu Nusantara, Ayah Semesta



Apa boleh buat. Tergelitik juga untuk ikut-ikutan menulis tentang puisi berujung bully ini. Entah judul aslinya apa, tahu-tahu ada Ibu Indonesia.
Saya sempat menyaksikan seorang WS Rendra membacakan puisinya.  Khotbah, judulnya. Masih dalam ingatan, gaya dan kelantangannya meski tak ingat betul kata-katanya. Diawali dengan “Fantastis!” Namun yang paling hafal hanya tiga suku kata itu : “Cha cha cha!”
Rendra mengucapnya dengan cara dan gaya yang hanya milik dia. “Cha cha cha!” katanya. Kakinya menghentak panggung seirama ucap tiga suku kata itu. “Cha cha cha!” Lambaian tangannya melayang-layang di atas kepala. Kepalan tinju pun diacung-acung. “Cha cha cha!” Pandangannya menyapu ribu pasang mata penonton, serasa dia berpandang  geram langsung ke mata saya juga.
Terhanyut mereka dan juga saya. Serasa ikut mengucap semangat serentak dalam kebimbangan, “Bong-bong-bong. Bang-bing-bong!” Atau “Ra-ra-ra. Hum-pa-pa!”
Atau, ikut centil ketika “Tra-la-la. La-la-la. Tra-la-la.”
Itulah Rendra dalam ingatan saya..

Hari-hari di awal April 2018 ini saya dan juga sebangsa dan setanah air dihentak sebuah puisi yang diakui karya Sukmawati (pake Soekarnoputri jangan ya?).  Puisi Ibu Indonesia, katanya.  Ibu Indonesia yang sari kondenya lebih dia pahami ketimbang syariat Islam. Yang senandungnya lebih merdu dari panggilan Allah yang disuarakan oleh muadzin.... Saya istigfar, karena Sukmawati juga pastinya tidak tahu apa arti istigfar....
Dan, ramailah dunia maya.......

Beruntung saya juga tahu ada puisi dengan judul “Ibu Nusantara, Ayah Semesta.”  Puisi ini merupakan salah satu puisi terbaik dari Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012, karya Astri Apriyani. Di salah satu penggalan puisinya yang saya kutip ini, seolah dia menasihati bahkan menegor Sukmawati kalau mau bicara tentang Indonesia lewat puisi.....
.... ..
“Tahukah kau, Nak.
orang-orang ini berbeda-beda suku bangsa.......”
.....

Boleh jadi Sukmawati hanya berkreasi sebatas wawasan pengetahuannya. Tapi masih punya semangat dan keinginan dalam menjaga keragaman bangsa.  
Sukmawati, berpuisilah sebatas wawasan, pikiran dan akal sehatmu. Karena dengan modal itu sudah cukup untuk memahami kebebasan dalam berkarya seni. Dan, siapa tahu, karya itu bisa diapresisasi dengan pujian.
Jadi begitulah....
Puisi memang bisa jadi bincangan khalayak. Kalau puisi itu, meski subyektif, dipandang baik atau terbaik. Bisa  juga buruk atau terburuk.
Dan, puisi karya Sukmawati itu, tidak termasuk pandangan saya yang pertama tentang puisi.
Eh, jiplakan pula.. Katanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.