Ayah Tidak Percaya Jihad Bom Bunuh Diri




Sejak kerusuhan di rutan Mako Brimob itu, bermunculan ajakan melalui tagar #KamiTidakTakut, #KamiBersamaPolisi dan juga sumpah serapah tentang teroris di media sosial. Dan, terjadi juga beberapa peritiwa teror bom bunuh diri di beberapa lokasi. Iya, ramai lah cerita dan berita teroris. Semakin gencar pula ajakan untuk menghadapi para pengecut itu secara bersama-sama....

Dan inilah cara pertamaku di lingkungan keluargaku.

Anak lelakiku ikut uring-uringan lantaran sedari kemarin Breaking News bom bunuh diri ga habis-habis di televisi. Apa lagi ketika tersiar perkara sekeluarga berani berjihad dengan bom bunuh diri......

“Ayah tidak percaya jihad dengan bom bunuh diri,” aku menyela keasyikannya.

Rupanya perkataanku mengagétkan dia. Dia bertanya-tanya dengan mata dan kerutan dahinya...

“Bunuh diri itu dosa, bahkan mayatnya pun tidak perlu disembahyangkan. Apa lagi membunuh, membunuh orang-orang yang tak berdosa dan tidak sedang membenci dan memerangi kita.... Doraka amat.”

“Begini, Nak. Kalau saja kita sebagai agen bom bunuh diri, yang akan kita lakukan adalah mencari dan menemukan orang-orang yang bisa kita bodohi. Mau perorangan atau sekeluarga sekalian. Mereka akan kita doktrin bahwa menjadi pelaku bom bunuh diri itu jihad, hero demi akhirat. Kita iming-iming dipertemukan tujuh bidadari atau bidadara secantik atau setampan yang mereka mau. Kita sempal ayat ini itu, potongan hadist atau dalil-dalil lain untuk membuat mereka mau dan percaya.... Ayah juga akan mengenalkanmu kepada mereka sebagai orang yang siap jihad melakukan bom bunuh diri kapan saja, biar mereka kagum dan tambah yakin....”

Annakku semakin mendekat duduknya sambil mematikan televisi.

“Nah, tinggal suatu waktu kita tentukan target pemboman dengan mereka..... Kita sebut, misalnya, Hotel X. Kita pesan kamar di hotel itu.... Kita sebutkan juga bahwa yang siap meledakkan diri di hotel itu adalah kamu. Lalu mereka kita minta mengantarkan bahan peledak ke kamar yang mereka tahu sudah kita pesan. Di situlah kamu menunggu. Mereka akan dengan tenang dan semangat akan mengantarkan peledak itu ke tempat yang dituju... Coba kau sambil buka-buka youtube tentang bom bunuh diri yang pernah terjadi di Indonesia....”

Anakku menilik-nilik beberapa video rekaman CCTV atau video amatir bom bunuh diri yang ada di youtube melalui telepon pintarnya.... Sepertinya dia juga menemukan sesuatu....

“Kelihatannya mereka tenang-tenang ya...” kata anakku sambil memundur-majukan video via youtube.

“Pastilah tenang-tenang, ga ada mimik sebagai seorang pelaku jihad.... Kan mereka, seperti yang kita suruh itu, niatnya hanya mengantarkan bahan peledak.... Tapi mereka tidak tahu bahwa detonator jarak jauh ada di tangan kita.... Ketika mereka sudah memasuki daerah target, kita tekan tombol peledaknya.... Buuum! Matilah mereka saat mencari-cari kamu, sementara kamu berada di sini bersama ayah....”

“Mereka mati dalam kebodohan....” ujar anakku.

“Begitulah pikiranku..... Di zaman abu-abu seperti sekarang ini, presiden saja bisa tidak dipercaya bahkan kitab suci pun disebut fiksi... Lha, kenapa juga kepada teroris kita ga boleh ga percaya?”
Anakku tersenyum dan beranjak berdiri...

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Ada tukang cuanki lewat tuh.... Ayah mau?”

Kalau aku jawab mau, pasti dia senang karena pasti aku yang harus traktir.....
Aku jawab, “Iya mau. Panggil!”

Ilustrasi: brilio.net

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.