PENGINGAT JAMAN PKI :)

Setidaknya sempat sekolah disini hampir 2 tahun. Waktu itu, masa-masa jaman DI/TII dan mulai rame PKI.
Halamannya masih berupa rumput, bisa digunakan untuk sepak bola, gatrik, galah asin dan lain-lain. Sekarang dibeton :(
Kelasnya luas dan lelangitnya tinggi. Papan tulisnya (bor) unik, Ada dua bilah digantung pada bingkai balok kayu yang tinggi. Ada tambang di kiri dan kanannya. Kalau satu papan tulis penuh, Guru menarik tambang itu, papan tulis yang penuh tulisan naik, berbarengan dengan papan tulis yang masih kosong turun.
Bangku sekolahnya juga enakeun. Satu bangku untuk berdua. Sandarannya ergonomik, asyik. Ada laci, kolowak buat menyimpan pinsil agar tidak gogorolongan karena meja tulisnya rada mudun.. Di tengah mejanya ada lubang, cukup untuk menyimpan botol mangsi.
Di belakang bangunan ini ada "aula terbuka", disebutnya bangsal. Di situ suka ada pertunjukan sulap, dan ragam kesenian lainnya. Dicacar dan suntik kotipa juga di situ. Sekarang bangsalnya musnah, jadi kantor Dinas Pendidikan Kota Bandung.
Di luar pagar sekolah berjajar tukang dodol lipet, gulali, japilus sampai gambar toong. Tapi jajanan khas sih kurupuk sambel oncom, manis-manisnya cukup ongol-ongol dikalapaan.
Ke sekolah biasa digonceng kakak saya atau ikut Land Rover dinas bapa saya, kantornya deket, sekarang jadi kantor Disparbud Prov Jabar. Bapa saya tea, jadi kepalanya di situ. Kalem.
Suatu hari, pulang sekolah saya mampir ke kantor bapak saya sambil memperlihatkan dua pinsil baru cap Buaya. Ada yang ngasih, seorang pemuda di tempat jajan, tampangnya masih inget. Kemejanya warna hejo pucuk cau. Dia bilang, "Kalau mau pinsil, bilang aja, PKI minta pinsil!" sambil menutup mata. Pas buka mata, ada pinsil baru di depan mata. Boleh minta lagi, "Aidit minta pinsil." Bray! Ada ada pinsil satu lagi... Baru.
Saya ceritakan semua itu ke bapa saya dengan gumbira....
Na atuh... Si Bapa yang dikenal kalem, sabar dan tak pernah kelihatan marah.... Matanya melotot, pinsil direbut, terus dipatah-patahin. Apa, begitu saya memanggilnya, lalu menyuruh seorang bawahannya menyatroni sekolah ini. "Teang pamuda nu make baju hejo pucuk cau. Bawa ka dieu!"

Saya ga tau, ketemu atau ga. Yang inget, saya disuruh pulang duluan, digonceng sepeda Mang Karsim, pesuruh kantor saat itu.
Besoknya saya dipindahkan sekolahnya ke SD Percobaan Negeri di Jalan Sabang..... Jaman PKI... Hadeuh!
Pengingat benci PKI. Gara-gara PKI boleh jadi bapa saya ga jadi menteri. Konon, kata Ema, Apa sudah disediakan rumah di Jl. Lembang, Menteng, Jakarta. "Tapi diperintah Bung Karno ngajaga penidikan di Jawa Barat ambeh teu kaganggu PKI!" Bedo deh ngerasain jadi "Anak Menteng." :).....
Hihihi, pantes beliow molotot berat, marah, sampai nafasnya turun-naik, waktu tahu anaknya dikasih pinsil cap Buaya sama yang ngaku PKI....
Cerita sekolebat, ketika berdiri sejenak di sudut ini, sambil menunggu estriku pesen kue di toko yang tidak jauh dari SD Soka ini...
Dan sekarang PKI mulai ramai disebut-disebut lagi... Hiiiiy!

Komentar

  1. jadi ngalamun ngabayangkeun suasananya... sigana mah dalam rangka ngamumule kultur proses belajara-mengajar tempo doeloe bisa dimasukkeun janten agenda kurikulum :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.