HAM, Sekilas Saja
Saya melihat ada aksi para pemuda perkara HAM di Taman Cihanjuang, Dago siang 10 Desember 2015.
Tak banyak tertangkap apa yang diorasikan oleh oratornya karena selain lalulintas padat, megaphonnya juga mengarah ke teman-temannya sendiri, bukan ke arah jalan yang padat. Tapi sudahlah.
Inget cerita Kang Rustandi, suami kakak saya, Téh Ida. Dia jenderal, banyak pengalaman melanglang buwana. Suatu hari cerita tentang "Human Rights." Gini, saurna. Kita diajarkan oleh barat untuk mengaplikasi human rights yang mereka kembangkan. Kita diajarkan agar bisa berenang bebas seperti ikan di lautan lepas.
Tapi kita lupa, mereka sudah bisa terbang bebas di langit luas seperti para elang.
Nah, itu elang-elang dengan mudah tinggal memakan ikan-ikan yang sedang merasa bebas berenang. Jebrééd!
Suatu hari bertemulah saya dengan seorang jurnalis dari Amerika Serikat yang juga bertugas di Australia. Sewéy éndeswéy bicara tentang human rights di negaranya.... So what?
Well, Sir. I can say, I stand on my own home land. You can't say so...
smile emotikon
Pan eloe hidup di tanah Indian, tapi eloe belon mau menerima juga rights mereka untuk memimpin negara di tanahnya sendiri. Begitu juga kaom Aborigin. That is teu kaci.
"Well, let me finish my dinner. Ok?"
Mani ngeunah téh... :)

Komentar
Posting Komentar