Searching for MH370 in Other Way



Ada semacam "tradisi" di kalangan aktivis atau relawan Search And Rescue (SAR) ketika sudah sekian lama ga bisa menemukan objek bahkan melokalisir pencarian. Mereka menajamkan insting, naluri dan logika yang berhubungan di lapangan.. Abah Iwan jago oge tah.  Ketika hal itu muncul, mereka menggunakan akal seperti bagaima orang Indian menemukan sumber air, bagaimana para penjelajah ketika kehilangan arah. Kebanyakan berhasil, karena mereka didasari oleh jiwa kemanusiaan yang tinggi. Selebihnya, doa.
Pencarian pesawat yang dipiloti Marsekal Ramli, misalnya. Setelah melewati batas waktu pencarian, masih ada beberapa regu pencari - kebanyakan dari Paskhas TNI AU yang juga punya semangat bahwa yang dicarinya adalah sejawat secorps. Medan Gunung Burangrang memang sangat sulit untuk pencarian baik udara maupun darat. Eh, dasar intuisi téa kali ya, Ketemu juga.
Pencarian pesawat Boeing 737 Adam's Air juga. Kembali orang-orang yang punya jiwa kemanusiaan yang tinggi yang mengalahkan segala teori keilmuan akademis ketika itu.
Yang pernah saya tahu, juga yang dilakukan oleh seorang relawan SAR. Kalau berbagai teori berdasarkan keilmuan masih buntu juga, ada yang melakukan  seperti ini. Dia menggelar peta, lalu menggunakan pendulum. Dengan bantuan pendulum, ditambah insting dan jiwa kemanusiaan, pendulum menunjukkan koordinat. Hong,  ternyata...  Sayang, beliau sudah almarhum, tapi sempat menyarankan untuk membaca sebuah buku yang bisa untuk dijadikan bahan pelajaran "kependuluman".   Dari perkenalan dengan dia, dan mengetahui manfaat pendulum dalam situasi dan kondisi darurat, hong-nya seperti di peta itu....
Wallahualam, memang. Tapi petunjuk ini berdasar pengalaman dan teori yang muncul dari kesulitan  di lapangan, dalam kondisi keputusasaan juga.
Just wanna tell what I've been thinking since 08/03/2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Joko Kendil

Corona Lagi, Lagi-lagi Corona

Sisi lain Rukun Haji di Arafah.